Selasa, 07 Agustus 2012

Kumpulan Puisi Karya Sapardi Djoko Damono

Kumpulan puisi ini saya buat ketika mengerjakan tugas dari guru... Semoga bermanfaat kepada semua orang yang membacanya dan kepada orang-orang yang mendapatkan tugas yang sama dengan saya semoga dapat membantu dalam mengerjakan tugasnya...


KUKIRIMKAN PADAMU 
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku, 
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka. 
Namun ada.
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.

KUTERKA GERIMIS
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
Kuterka gerimis mulai gugur 
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku 
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu 
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.

MATA PISAU 
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
mata pisau itu tak berkejap menatapmu 
kau yang baru saja mengasahnya 
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel 
yang tersedia di atas meja 
sehabis makan malam; 
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

PERAHU KERTAS 
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.  Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.

PERISTIWA PAGI TADI 
kepada GM 
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono

Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

PERTAPA
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
Jangan mengganggu: 
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata — ah, apa ada bedanya.  Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna — masih beranikah kau menyapaku, Saudara?
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.

PESAN
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya. 
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya. 
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan …..
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.

PESTA
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
pesta berlangsung sederhana.  Sedikit tangis, basa-basi itu; tinggal bau bunga gemetar pada tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke tanah-tanah sana yang sesekali muncul dalam mimpi-mimpinya 
. . . di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan, dan kakinya
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982. 

PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, “aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!  ” 
kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, “jangan berisik, mengganggu . 
hujan!” 
hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam, 
hardiknya, ‘lepaskan daun itu!”
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.

SAJAK NOPEMBER 
Oleh :
 

Sapardi Djoko Damono
Siapa yang akan berbicara untuk kami 
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini 
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur 
yang berjejal 
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami 
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan 
siapa yang akan berbicara atas nama kami 
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan 
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan 
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami 
siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana 
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus 
tanpa dicatat namanya 
kepada Ibu yang lebih besar dan agung : 
ialah Tanah Air
kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah 
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus 
untuk pergi lebih dahulu 
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami 
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami 
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik 
tanpa mengeluh serta putus asa
di Solo dua orang dalam satu kuburan 
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan 
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan 
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik 
tapi katakanlah kepada anak cucu kami; 
di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu 
bertimbun dalam satu lobang 
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu
tambur yang paling besar telah ditabuh 
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami 
terompet yang paling lantang ditiup 
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu 
kami pun bangkit dari kubur 
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah 
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan 
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya
kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati 
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka 
dan hari depan, sudah itu : mati
orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu 
tanpa tahu siapa kami ini 
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus 
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal 
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah 
dan sudah itu : mati
siapa berkata bahwa kami telah musnah 
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar 
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah 
di ladang dan di laut, meskipun kalian 
tiada menyadari kehadiran kami
siapa berkata bahwa kami telah musnah 
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan 
dan kami tak lain baja yang membara hancur 
oleh pukulan 
ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami 
tapi besok mesti tiba giliranmu 
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih 
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak 
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan 
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan 
(mungkin besok tiba giliranmu)
siapa yang tahu cinta saudara, paman  dan bapa 
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak 
ingat untuk apa kamu pergi 
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam 
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia 
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan 
apa saja untuknya 
jawablah : ya 
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa 
jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari 
datang untuk memberkati anak-anak yang tidur 
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan 
bahasa dan kehendak kami 
sudah kau dengarkah  suara napas kami 
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur 
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali 
selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak 
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak 
tapi toh tak ada bedanya: 
kami telah memulainya 
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya
dan memang tak ada bedanya : 
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan 
bagimu adalah awal pertaruhan 
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi 
meski kami pernah kau kenal atau tidak 
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani 
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik 
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung 
lantaran satu harapan yang pasti 
walau tak pernah kembali
kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda 
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama 
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami 
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan 
mengeluarkan ampun 
kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi 
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini 
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati 
kami telah mati 
lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini 
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami 
kami telah berkelahi; dan mati 
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami 
dan mengatakannya kepada siapa pun 
tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami 
yang telah mati pagi sekali 
dan berjalan tanpa nama dan tanda 
dalam satu lobang kubur 
kami telah lahir dan selalu lahir 
selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah 
selalu dan selalu berkelahi 
di mana dan kapan saja
biarkan kami bicara lewat suara anak-anak 
yang menyanyikan lagu puja hari ini 
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana 
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini
Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar 
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini 
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja 
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta
Gelora 
Th III, No 19 
( Nopember 1962)

SAJAK SUBUH 
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air.  Mereka berteriak, “Jangan bermimpi!” dan ia terkejut tak mengerti. 
Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi.  Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya. 
“Jangan bermimpi!” gertak mereka. 
Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai.  Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya.  Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, “Jangan bermimpi!  ” 
Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan …..
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982. 


SAJAK TELUR
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung 
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin 
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai 
merindukan telur
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.

SERULING
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono
Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya, menutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan pangeran dan putri dari kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdunya …. 
Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa menganga.
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982. 

SETANGAN KENANGAN
Oleh : 
Sapardi Djoko Damono

Siapakah gerangan yang sengaja menjatuhkan setangan di lorong yang berlumpur itu.  Soalnya, tengah malam ketika seluruh kota kena sihir menjelma hutan kembali, ia seperti menggelepar- gelepar ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama tentang rencana ….
Perahu Kertas, 
Kumpulan Sajak, 
1982.














Minggu, 13 Mei 2012

Era Madrid Saat Ini 2000-Sekarang


Beberapa bulan usai meraih gelar Eropa kedelapannya, Real Madrid memilih presiden yang baru pada Juli 2000 dan yang terpilih adalah pengusaha Spanyol, Florentino Pérez. Dalam kampanyenya ia berjanji untuk menghapus utang klub dan memodernisasi fasilitas klub. Namun janji utamanya yang mendorong Pérez kepada kemenangan saat pemilihan adalah pembelian Luís Figo dari seteru abadi Madrid, yaitu Barcelona. Tahun berikutnya, klub membangun kamp pelatihan yang baru dan menggunakan uang yang mereka dapat dari tahun sebelumnya untuk memulai perekrutan pemain bintang—yang oleh jurnalis Spanyol disebut sebagai "Los Galácticos"—dengan mengontrak pemain-pemain seperti Zinédine ZidaneRonaldoLuís FigoRoberto CarlosRaúl González, dan David Beckham. Sempat menjadi perdebatan ketika pemain-pemain yang dibeli oleh Perez gagal menunjang prestasi klub, namun berhasil tertutupi oleh gelar Liga Champions kesembilan Madrid pada tahun 2002 yang disusul gelar Piala Interkontinental pada tahun yang sama dan diakhiri gelar La Liga pada tahun 2003. Namun sejak 2003 sampai 2006, sekalipun diisi barisan pemain bintang, klub gagal meraih satupun piala.
Ramón Calderón kemudian terpilih sebagai presiden klub pada 2 Juli 2006 dan kemudian ia mengangkat Fabio Capello sebagai pelatih baru dan Predrag Mijatović sebagai direktur sepak bola yang baru. Real Madrid memenangkan gelar La Liga pada tahun 2007 untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Tetapi hanya beberapa saat usai memenangi gelar tersebut, Capello langsung dipecat. Pada musim 2007—2008, Real Madrid memenangkan liga domestik ke-31 kalinya di bawah asuhan pelatih JermanBernd Schuster.
Pada tanggal 1 Juni 2009, Florentino Pérez kembali menjadi presiden Real Madrid dan bertahan sampai saat ini. Pérez melanjutkan tradisinya mengontrak pemain bintang dengan membeli Kaká dari AC Milan dan kemudian membeli Cristiano Ronaldodari Manchester United yang memecahkan rekor transfer dengan harga 80 juta pound sterling. Di bawah asuhan pelatih kontroversial dari Portugal, Jose Mourinho, Real Madrid berhasil memenangi gelar La Liga untuk ke-32 kalinya pada musim 2011-12.

Sabtu, 12 Mei 2012

Era Quinta Del Buitre 1980-2000


Pada awal 1980-an, Real Madrid seperti kehilangan cengkeramannya di La Liga dan mereka membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa kembali lagi menuju ke atas melalui bantuan beberapa bintang baru. Keberhasilan para bintang baru tersebut kemudian disebut oleh jurnalis olahraga Spanyol sebagai era generasi La Quinta del Buitre ("Lima Burung Nazar"), yang berasal dari nama el buitre ("burung nazar"), julukan yang diberikan kepada salah satu pemain Madrid saat itu, Emilio Butragueño. Anggota lainnya adalahManuel SanchísRafael Martín VázquezMiguel Pardeza, dan Míchel. Dengan La Quinta del Buitre (kemudian berkurang menjadi empat anggota ketika Miguel Pardeza meninggalkan klub dan pindah ke Real Zaragoza pada 1986) dan pemain terkenal sepertipenjaga gawang Francisco Buyobek kanan Miguel Porlán Chendo, dan penyerang Meksiko Hugo Sanchez, Real Madrid berhasil bangkit dan memiliki kekuatan terbaik di daratan Spanyol dan Eropa pada paruh kedua tahun 1980-an. Hasilnya juga cukup signifikan: mereka berhasil memenangkan dua Piala UEFA, lima gelar Liga Spanyol berturut-turut, satu Piala Spanyol, dan tiga Piala Super Spanyol. Pada awal 1990-an, La Quinta del Buitre resmi berpisah setelah Rafael Martín Vázquez, Emilio Butragueno, dan Míchel meninggalkan klub.
Pada tahun 1996, Presiden Lorenzo Sanz menunjuk Fabio Capello sebagai pelatih. Meskipun masa jabatannya hanya berlangsung satu musim, Real Madrid berhasil menjadi juara La Liga lewat kontribusi Roberto CarlosPredrag MijatovićDavor Šuker, dan Clarence Seedorf yang membantu para pemain lokal seperti Raul GonzalezFernando HierroIván Zamorano, dan Fernando Redondo. Real Madrid kemudian menambah amunisi dengan kedatangan Fernando Morientes pada tahun 1997. Penantian mereka selama 32 tahun untuk bisa berjaya lagi di Eropa akhirnya berakhir pada tahun 1998 di bawah manajer Jupp Heynckes saat berhasil lolos ke Final Liga Champions UEFA dan mengalahkan Juventus dengan skor 1–0 berkat gol dari Predrag Mijatović.

Era Santiago Bernabeu 1945-1978


Santiago Bernabéu Yeste terpilih menjadi presiden Real Madrid tahun 1943. Di bawah kepemimpinannya, Real Madrid kemudian berhasil membangun Stadion Santiago Bernabéudan tempat berlatih klub di Ciudad Deportiva yang sebelumnya sempat rusak akibat Perang Saudara Spanyol. Pada 1953, Bernabeu kemudian mulai membangun tim dengan cara mendatangkan pemain-pemain asing, salah satunya adalah Alfredo Di Stéfano.
Pada tahun 1955, berdasar dari ide yang diusulkan oleh jurnalis olahraga Perancis dan editor dari L'EquipeGabriel HanotBernabéu, Bedrignan, dan Gusztáv Sebes menciptakan sebuah turnamen sepak bola percobaan dengan mengundang klub-klub terbaik dari seluruh daratan Eropa. Turnamen ini kemudian menjadi dasar dari Liga Champions UEFA yang berlangsung saat ini. Di bawah bimbingan Bernabéu, Real Madrid memantapkan dirinya sebagai kekuatan utama dalam sepak bola, baik di Spanyol maupun di Eropa. Real Madrid memenangkan Piala Eropa lima kali berturut-turut antara tahun 1956 dan 1960, di antaranya kemenangan 7–3 atas klub JermanEintracht Frankfurt pada tahun 1960. Setelah kelima berturut-turut sukses, Real secara permanen diberikan piala asli turnamen dan mendapatkan hak untuk memakai lencana kehormatan UEFA. Real Madrid kemudian memenangkan Piala Eropa untuk keenam kalinya pada tahun 1966 setelah mengalahkan FK Partizan 2–1 pada pertandingan final dengan komposisi tim yang seluruhnya terdiri dari pemain berkebangsaan Spanyol, sekaligus menjadi pertama kalinya dalam sejarah pertandingan Eropa. Tim ini kemudian dikenal lewat julukan "Ye-ye". Nama "Ye-ye" berasal dari "Yeah, yeah, yeah" chorus dalam lagu The Beatles berjudul "She Loves You" setelah empat anggota tim berpose untuk harian Diario Marca mengenakan wig khas The Beatles. Generasi "Ye-ye" juga berhasil menjadi juara kedua Piala Champions pada tahun 1962 dan 1964.
Pada 1970-an, Real Madrid memenangi kejuaraan liga sebanyak 5 kali disertai 3 kali juara Piala Spanyol. Madrid kemudian bermain pada final Piala Winners UEFA pertamanya pada tahun 1971 dan kalah dengan skor 1–2 dari klub Inggris, Chelsea. Pada tanggal 2 Juli 1978, presiden klub Santiago Bernabéu meninggal ketika Piala Dunia FIFA sedang berlangsung di ArgentinaFIFA kemudian menetapkan tiga hari berkabung untuk menghormati dirinya selama turnamen berlangsung. Tahun berikutnya, klub mengadakan Kejuaraan Trofi Santiago Bernabéu sebagai bentuk penghormatan pada mantan presidennya tersebut.

Minggu, 06 Mei 2012

Chord Ten 2 Five - You

EM7 Dm7 AM7 B 

EM7            C#m7  
You did it again 
                   AM7 
You did hurt my heart 
        B/G# 
I don’t know how many times 

EM7                          C#m7 
You... I don’t know what to say 
                     AM7 
You’ve made me so desperately in love 
    B 
and now you let me down 

               C#m7 
You said you’d never lie again 
              G#m 
You said this time would be so right 
           AM7                               B 
But then I found you were lying there by her side 

EM7                     C#m7 
You.. You turn my whole life so blue 
             AM7                B 
Drowning me so deep, I just can reach myself again 
EM7                C#m7 
You.. Successfully tore my heart 
              DM7 
Now it’s only pieces 
Am7 
Nothing left but pieces of you 

[interlude] EM7 C#m7 DM7 AM7 B 2x 

EM7                        C#m7 
You frustated me with this love 
                    AM7 
I’ve been trying to understand 
    B/G# 
You know i’m trying i’m trying 

EM7                        C#m7 
You.. I don’t know what to say 
                 AM7 
You’ve made me so desperately in love 
    B 
And now you let me down


Sumber : http://www.chordfrenzy.com

Awal mula Real Madrid 1902-1945


Awal mula Real Madrid dimulai saat sepak bola diperkenalkan ke Madrid oleh para akademisi dan mahasiswa dari Institución libre de enseñanza yang di dalamnya termasuk beberapa lulusan dari Universitas Oxford dan Universitas Cambridge. Mereka mendirikan Football Club Sky pada 1897 yang kemudian kerap bermain sepak bola secara rutin pada hari Minggu pagi di Moncloa. Klub ini kemudian terpecah menjadi dua pada tahun 1900, yaitu: New Foot-Ball de Madrid dan Club Español de Madrid. Klub terakhir terpecah lagi pada tahun 1902 yang kemudian menghasilkan pembentukanMadrid Football Club pada tanggal 6 Maret 1902. Tiga tahun setelah berdirinya, pada tahun 1905, Madrid FC merebut gelar pertama setelah mengalahkan Athletic Bilbaopada final Copa del Rey. Klub ini menjadi salah satu anggota pendiri dari Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol pada 4 Januari 1909 ketika presiden klub Adolfo Meléndez menandatangani perjanjian dasar pendirian Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol. Dengan beberapa alasan, klub ini kemudian pindah ke Campo de O'Donnellpada tahun 1912. Pada tahun 1920, nama klub diubah menjadi Real Madrid setelah Alfonso XIII dari Spanyol memperbolehkan klub menggunakan kata Real—yang berarti kerajaan—kepada klub ini.
Pada tahun 1929, Liga Spanyol didirikan. Real Madrid memimpin musim pertama liga sampai pertandingan terakhir, namun saat itu secara mengejutkan mereka kalah oleh Athletic Bilbao yang menyebabkan gelar yang sudah hampir pasti diraih, direbut oleh Barcelona. Real Madrid akhirnya berhasil memenangkan gelar La Liga pertama mereka pada musim 1931—32. Real kemudian berhasil mempertahankan gelarnya pada tahun selanjutnya dan sukses menjadi klub Spanyol pertama yang menjuarai La Liga dua kali berturut-turut.